
Silahkan hapus semua kenangan anda
Menghapus masa lalu adalah awal untuk mengendalikan hawa nafsu. Banyak orang yang memiliki keinginan jahat karena terpaut kenangan akan dendam, kepahitan dan kesedihan diwaktu yang telah berlalu. Ini akan memicu kita untuk melakukan tindakan heroik yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Pertanyaannya “Mengapa para pejuang sangat heroik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia?”. Jawabannya adalah “Karena dahulu mereka pernah mengalami betapa sakitnya menjadi budak, di jajah, ditindas dan menderita di atas kesewenang-wenangan terlebih ketika itu terjadi di depan mata sendiri ”. Masa lalu yang buruk jika belum dilupakan/ terus terngiang dalam pikiran akan mendorong kita untuk bertindak nekat melakukan kekerasan dan bersikap anarkis terhadap orang lain/ sekelompok orang.
Teroris hawa nafsunya tinggi
“Mengapa para teroris sangat heroik sampai menggemparkan negeri untuk melakukan bom bunuh diri?”. Karena mereka telah bosan/ muak menyaksikan langsung ketidakadilan, penindasan dan penderitaan yang terjadi dimana-mana”. Kenangan yang buruk di masa lalu, apalagi yang berhubungan langsung dengan diri sendiri dan melibatkan aparatur negara membuat mereka benci dengan negara ini. Jadi mereka dihasut oleh dendam, kebencian dan kepahitan di masa lampau yang menumpuk sampai meluap menjadi watak kebinatangan yang membabi buta. Bagian inilah yang sengaja dikompori dan dibesar-besarkan untuk membakar semangat menjadi teroris tulen. Terlebih lagi ketika hal itu didukung oleh keyakinan (iman).
Mengalihkan konsentrasi bagi yang IQ-nya tinggi
Lalu bagaimana dengan mereka yang ber-IQ tinggi yang sangat pintar menghafal dan sangat sulit untuk melupakan sesuatu. Ini pastinya akan menjadi penghalang untuk lebih maju hari lepas hari. Satu-satunya cara untuk melepaskannya dari kebiasaan menghafal kesalahan orang dalam kebencian adalah dengan mengalihkan fokus. Setiap kali pikiran mulai menerawang sesuatu yang buruk maka beralihlah untuk memikirkan hal yang baik sehingga fokus bisa berubah menjadi lebih positif (misalnya pada Kitab Suci, buku pelajaran atau ilmu pengetahuan yang berguna lainnya). Pengaturan ini memang “tidak semudah membalikkan telapak tangan” namun bisa dipelajari mulai dari sekarang.
Baca Juga : Kamu Makan Banyak Tetap Kurus ? Mungkin Kamu Terkena Penyakit Ini, No 4 Kamu Harus Hati Hati
Andapun dapat mengalihkan konsentrasi dengan senantiasa memfokuskan pikiran kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam doa-doa yang penuh kerendahan hati. Seperti seseorang yang bercakap-cakap, seolah-olah Tuhan ada disamping anda. Ini juga bisa dilakukan dengan senantiasa memuji dan memuliakan nama-Nya di dalam hati.
Saat sebuah konflik terjadi yang paling dirugikan adalah sisi kepercayaan kepada orang lain. Jika yang bermasalah dengan kita adalah orang luar maka ini tidak begitu terasa. Namun ketika kita bermasalah dengan orang dalam yang dekat dengan kita seperti sahabat. Niscaya susah sekali membangun kepercayaan yang sama seperti sediakala. Oleh karena itu jangan pernah tukarkan persahabatan anda dengan konflik. Sadarilah, bahwa ini akan membuat hubungan antara keduanya tidak semanis sebelumnya. Kesalaham harus dimaafkan tapi tingkat kepercayaan itu tidak dapat dikembalikan dengan cepat.
Siapa yang salah dan yang benar?
Saat suatu gejolak sosial berlangsung, “siapa pelaku dan siapakah korbannya?” “Siapa yang benar dan siapakah yang salah?” Lalu siapa yang menjadi hakim dan memutuskannya?”. Ini adalah pertanyaan2 paling rancu sedunia karena tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali membawanya ke muka Hukum (Lembaga Peradilan). Saat suatu masalah tidak sampai ke muka hukum maka yang menjadi hakim atas kita adalah diri sendiri. Jadi ketika sebuah gesekan sosial terjadi alangkah lebih baik jika kita mengoreksi diri sendiri. Ingatlah bahwa “Manusia dilahirkan dalam dosa, jangan sok benar”. Ingatlah bahwa sebesar-besarnya kesalahan orang lain pasti anda juga bersalah (walau sedikit) karena dosa itu bertumpuk-tumpuk dalam sebuah percek-cokan. Bila memang tidak bisa memutuskan sendiri dapat sharing dengan pasangan hidup, orang tua, Pendeta, Ustadz dan tokoh lainnya yang dianggap mampu. Jika anda salah harus berani meminta maaf namun bila anda benar jangan menggila lalu menuntut orang lain untuk meminta maaf. Biarlah semua terjadi menurut kesadaran masing-masing.
Cara meminta maaf kepada pihak lain
Setiap dari kita pasti sudah pernah bersalah kepada yang lainnya. Mungkin dalam keluarga kepada orang tua, pasangan hidup, adik, kakak, saudara atau dalam lingkungan pergaulan, sahabat, guru, dosen, teman dan lain sebagainya. Ini manusiawi sekali kawan. Baik, yang pertama akan kita bahas adalah bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada orang lain setelah kita membuat kesalahan? Sebab semakin lepas hati ini dari rasa bersalah maka semakin tentram dan tenang rasanya hidup ini. Berikut selengkapnya.
- Rajin mengoreksi diri.
- Sadari kesalahan anda.
- Begitu salah segera meminta maaf.
- Terima konsekuensinya.
- Sampaikan secara langsung.
- Temukan moment yang bagus.
Semuanya ini tentang komunikasi kawan. Jika ketegangan sudah agak mencair maka tidak ada salahnya jika anda mengajak kawan untuk melakukan hal yang biasanya anda lakukan berdua. Istilahnya, bawalah dia dalam kenangan masal lalu dulu ketika hubungan itu masih langgeng. Bila perlu sekaligus ajak dia langsung ke TKP. Diingatkan kepada kenangan bersama yang dulu indah mungkin bisa membuat bibir ini meminta maaf sehingga suasananya lebih cair dan hubungan baik itupun kembali langgeng.
- Namanya juga meminta.
Berbuat baik padanya akan membuka pintu kepada perbaikan hubungan.
Sadarilah bahwa kebaikan adalah energi positif yang dapat menetralkan suhu panas (negatif) yang sedang anda alami. Cobalah mulai dari kebaikan terkecil saja dulu semisalnya senyuman. Lalu setelah itu lanjut terus kepada kebaikan lainnya sampai ia benar-benar mau menerima permintaan maaf anda.
Kebaikan kita juga dapat memperbaiki kepercayaan yang telah luntur. Namun harap di ingat bahwa prinsip yang konsisten untuk berubah yang akan mengembalikan rasa percaya itu. Kebaikan hanya sebagai pelengkap untuk mempermulus hubungan yang telah retak.
- Ajak makan diluar.
- Hangout bareng.
- Memberi hadiah.
- Bantu dia menyelesaikan pekerjaannya.
- Bantu dia menyelesaikan masalahnya.
- Pegang prinsip untuk konsisten dan jangan mengulanginya kembali.
- Jangan dipaksakan, “Mungkin dia masih belum bisa melupakan sakit hatinya pada kita”
Yes, “ketika maksud baik kita dibalas dengan diam dan kebencian, bagaimana perasaan anda?”. Ini tandanya agar kita lebih sabar untuk menguatkan hati, mungkin dia masih butuh waktu untuk meredam amarahnya dan menyadari ketulusan hati kita. Jadi biarkan saja teman. Oke yang penting kewajiban kita sudah diselesaikan.





No comments:
Post a Comment